28 April 2012

Konstribusi Ajaran Konfusius Pada Dinasti Zhou Timur

Sebelum bikin tulisan ini pas zaman semester 1, aku bener-bener serius ngegarapnya. Sampai ke perpustakaan nyari bahan setumpuk, browsing (sampai jelek), beli dvd Confucius yang diperanin Chow Yun Fat (ini sih ngefans sama Yun Fat-nya :)  hehe).

Dinasti Zhou disebut sebagai awal dari peradaban Cina. Dinasti sebelumnya, Shang, jatuh dikarenakan pemberontakan oleh suku Zhou yag dipimpin oleh pemimpin Zhou, Wen dan setelah meninggal, dilanjutkan oleh anaknya, Wu. Saat itu Dinasti Shang dipimpin oleh Kaisar Chou yang kekejamannya diluar batas dan semena-mena pada tampuk kekuasaannya.
Setelah peperangan dimenangkan oleh pihak Zhou,  berdirilah Dinasti Zhou. Sistem pada dinasti sebelumnya, yang memakai kaisar sebagai pusat pemerintahan, berubah menjadi sistem feodalisme. Dan yang paling terpenting pada dinasti tersebut adalah munculnya berbagai pemikiran filsafat. Dan Konfusius adalah salah satunya.    
  Konfusius merupakan salah satu tokoh abadi dalam sejarah manusia sebagai pembuat reformasi. Gagasan dan pemikirannya sampai sekarang masih diterapkan dengan pengikut yang berjumlah ribuan diberbagai belahan bumi. Karya-karyanya juga banyak diterapkan sampai sekarang. 
Bernama asli Khung Qiu/Zhong Ni yang lahir pada zaman Dinasti Zhou 551 SM di desa Chang Ping di negara bagian Lu. Berlatar belakang yatim saat berumur 3 tahun. Hidup miskin dan sangat tertarik dengan ilmu pengetahuan.
Pemikiran filsafat Konfusius begitu besar pengaruhnya pada negara Korea, Jepang, Vietnam, Singapura, Taiwan bahkan sampai benua Eropa. Seperti yang kita ketahui, dalam buku-buku pelajaran sejarah pada sekolah menengah, yang mendalangi Revolusi Prancis adalah munculnya pemikiran Rennaisaince. Sebenarnya dibalik semboyan Revolusi Prancis, “Liberty (kebebasan), Equality (persamaan) dan Fraternity (persaudaraan)“  diadaptasi dari salah satu ajaran Konfusius tentang kemanusiaan (humanity) . Juga menurut Thomas Jefferson, seseorang dibalik Piagam penghargaan Amerika Serikat (Declaration of Independence) mengakui ajaran Konfusius yang menginspirasi deklarasi tersebut.
Jika pengaruh Konfusius begitu besar sampai mewarnai sejarah revolusi suatu negara, pastilah banyak kemajuan yang telah dicapai pada masa ia masih hidup, terutama pada saat Dinasti Zhou Timur (770-221 SM).

 Pendidikan 
Pendidikan dapat mengubah segala yang tidak mungkin menjadi mungkin. Bisa dikatakan pendidikan adalah dasar dari segala kemajuan pada Dinasti Zhou Timur. Separuh dari murid-murid Konfusius menjabat sebagai pegawai pemerintahan. Karena memang posisi pegawai pemerintah adalah status yang dapat menaikan martabat dan juga menjadi impian setiap orang pada saat itu.
 Pada masa itu, pendidikan hanya diperuntukan bagi kaum bangsawan. Tapi menurut ajaran Konfusius, dalam dunia pendidikan tidak ada perbedaan kelas. Setiap orang, apapun latar belakangnya, berhak untuk mendapatkan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Sehingga dalam waktu singkat Konfusius dapat merangkul berbagai kalangan menjadi satu untuk dijadikan murid. Dan munculah istilah A Hundred School of the Warring States Period (ratusan sekolah pada zaman negara berperang) yang juga dilengkapi oleh ajaran Mohisme.   
 Murid-murid Konfusius yang berlatar belakang miskin dan bukan bangsawan pada akhirnya dapat menaikan status mereka dengan menduduki staff pemerintahan. Untuk itu, sebelum murid-muridnya terjun pada masyarakat, Konfusius telah memberi bekal agar ketika murid-muridnya yang kelak mendapat jabatan, dapat mengelola pemerintahan yang adil dan berpihak pada kebutuhan rakyat sesuai dengan prinsip-prinsip yang mereka anut.
Terdapat 8 prinsip belajar, yaitu:
1.      Menyelidiki hakikat segala sesuatu.
2.      Bersikap jujur.
3.      Mengubah pikiran.
4.      Membina diri sendiri.
5.      Mengatur keluarga sendiri.
6.      Mengelola negara.
7.      Membawa perdamaian dunia.

Konfusius tidak hanya mengajari pengetahuan dan keahlian, tapi juga cara mengasah pikiran dan memperoleh integritas yang akhirnya mengembangkan watak dan kecerdasan mereka. Metode pembelajarannya adalah dalam bentuk diskusi panel. Murid-muridnya didorong untuk bertanya dan mengemukakan pendapat secara bebas dan mandiri. Sehingga murid-muridnya menjadi kritis dan sangat berguna dalam mempertahankan prinsip yang dianut.
Dalam proses pengajarannya, Konfusius membaginya dalam 4 tahapan, yaitu:
1.      Mengarahkan pikiran dengan cara.
2.      Mendasarkan diri pada kebajikan.
3.      Mengandalkan kebajikan untuk dapat dukungan.
4.      Mencari rekreasi dalam seni.

Beliau mempercayai bahwa semua orang dapat menarik manfaat dari hasil pengolahan diri dalam belajar. Ia juga memperkenalkan suatu program ajaran moralitas atau kebajikan untuk calon pimpinan negara. Beliau membuat suatu daftar prioritas dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, yaitu:
1.      Kelakuan adalah syarat utama.
2.      Berbicara adalah prioritas kedua.
3.      Memahami soal-soal pemerintah adalah prioritas ketiga.
4.      Kesusasteraan adalah prioritas keempat.

Perilaku dan watak menjadi alasan utama karena menurutnya, seseorang akan menjadi Chun Tzu (orang yang berbudi) bukan atas dasar keturunan. Setiap orang bisa menjadi Chun Tzu. Maka dari itu ia menerima murid dari berbagai kalangan tanpa memandang status.
Konfusisus menguasai 6 seni, yaitu:
1.      Tata krama (Li).
2.      Musik (Yue).
3.      Memanah.
4.      Menunggang kuda.
5.      Kaligrafi.
6.      Aritmatika.

Li merupakan elemen yang sangat penting untuk murid-muridnya. Tanpa sopan santun, orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan keahlian tidak ada gunanya. Murid-murid Konfusius yang berasal dari golongan miskin pun diajari tata krama istana agar ketika menduduki jabatan kelak dapat bersikap sejajar dan pantas.
  
Kehidupan Sosial
Konfusius berpendirian bahwa pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial. Dalam sebuah batas-batas tertentu, manusia dibentuk seperti keadaannya, oleh masyarakat. Dan masyarakat dibentuk seperti keadaannya, oleh seorang yang menyusunnya. Hati nurani seseorang tentu menolak untuk menarik diri dari masyarakat, tetapi juga melarangnya untuk menyerahkan pertimbangan moralnya kepada masyarakat.
Terdapat asas timbal balik jika setiap orang bekerja untuk kebahagiaan bersama, maka sudah pasti akan didapatkan suatu keadaan yang menciptakan kebahagian karena kebahagiaan merupakan kebaikan dan tujuan utama hidup manusia.
Beliau meyakini agar menekankan cara menjalani kehidupan yang harmonis dengan mengutamakan moralitas dan kebajikan. Seseorang dilahirkan untuk menjalani hubungan tertentu. Seperti kewajiban terhadap negara, kewajiban terhadap orang tua, kewajiban untuk menolong teman, dan suatu kewajiban umum terhadap kehidupan manusia. Kewajiban-kewajiban tersebut berbeda satu sama lain. Kewajiban yang paling utama adalah kewajiban terhadap negara dan orang tua.
Dalam kitab Wu Lun (lima hubungan utama), ajaran ini mengajarkan manusia untuk menjaga lima hubungan utama yaitu antara raja-menteri, bapak-anak, suami-istri, kakak-adik (laki-laki) dan antar teman. Kehidupan akan selaras jika setiap manusia menyadari akan hubungan atasan dengan bawahan. Sehingga pada masa itu terbentuklah masyarakat Shen Si (bangsawan) dan Xiao Ren (orang kecil), dimana mereka dapat berlaku sesuai dengan peran masing-masing dan kelasnya sehingga Dinasti Zhou menjadi maju.  

Ekonomi, Hukum, Politik dan Pertahanan
Pada awal dinasti Zhou, seorang raja sangat berkuasa dan negaranya menikmati kedamaian dan kemakmuran. Tetapi pada masa Konfusius, Cina terbagi menjadi beberapa negara bagian untuk merebut kekuasaan. Didalam satu negara pun selalu terjadi pertegkaran dan perselisihan antara penguasa dan kaum bangsawan sehingga kesejahteraan rakyat biasa sangat terabaikan.
Dalam ajaran Konfusius, sistem pemerintahan yang diterapkan adalah sistem paternalistik (kebapakan), dimana terjalin sikap saling menghormati dan menghargai antara pemerintahan dan rakyat. Pemimpin negara harus menciptakan kesempurnaan moral dengan cara memberi contoh yang benar pada rakyat. Beliau mempersiapkan murid-muridnya untuk menjadi pegawai pemerintahan dengan prinsip moral yang tinggi untuk selalu berpihak pada rakyat.  
Beliau pernah berkata, bila seorang penguasa benar-benar bersungguh-sungguh dalam menyajikan korban kepada leluhur mereka, mengapa mereka tidak harus berbuat yang sama juga dalam memperhatikan pemerintahan kemaharajaan. Bila para menteri memperlakukan menteri lain secara hormat, mengapa tidak untuk harus memperhatikan kepentingan rakyat jelata yang menjadi tulang puggung negara.
Ia mengharapkan agar murid-muridnya bersedia mengorbankan jiwanya demi prinsip-prinsip yang diajarkannya dalam membela sesuatu yang disebut Jalan (tao). Jalan artinya jalan diatas segenap jalan lain yang seharusnya diikuti manusia. Tujuan yag hendak dicapai ialah kebahagiaan, dalam hidup ini, disini dan kini, untuk segenap umat manusia. Dalam berabad-abad para Konfunsianis tercatat sebagai kaum pemberontak atau dihukum mati karena menentang pemerintahan yag dianggap tidak sesuai dengan Jalan.
Salah seorang murid Konfusius, Zigong pernah bertanya tentang pemerintah; Konfusius menjawab: “ Cukup makan, cukup perlindungan dan kepercayaan rakyat adalah hal yang terpentig dari pemerintahan”.
Konfusius pernah menjabat sebagai walikota di kota Zhongdu. Dalam waktu satu tahun, Zhongdu menjadi kota teladan tanpa kriminalitas. Dalam menangani kasus hukum, Konfusius bertujuan untuk mengakhirinya.
Ia juga mengatakan: “Jika orang hendak memimpin rakyat dengan menggunakan aturan-aturan, dan hendak mempertahankan ketertiban dengan menggunkan hukuman-hukuman, maka rakyat pasti hanya berusaha untuk menghindari hukuman tanpa mempunyai rasa wajib moral. Tetapi jika orang yang memimpin mereka dengan kebajikan dan mendasarkan diri pada li dalam mempertahankan ketertiban, maka rakyat akan mempunyai rasa wajib moral untuk memperbaiki diri sendiri”.
Setelah menjadi walikota Zhongdu, ia dipromosikan sebagai Menteri Kehakiman dan kemudian Perdana Menteri di negara Lu. Perekonomian negara Lu menjadi sangat maju dibawah pimpinannya. Konsep pemerintahan Konfusius adalah mempertahankan kejujuran, kerajinan, kemakmuran, pembagian ketenagakerjaan yang adil dan kasih pada sesama di suatu negara yang memiliki ribuan kereta perang.
Ia juga sukses dalam urusan diplomatik ketika dia meneman bangsawan negara Lu di konferensi perdamaian dengan negara Qi dan menegosiasikan pengembalian tiga kota yang diambil dari negara Lu. Dalam urusan diplomatik, Konfusius jarang melakukan kekerasan (perang).
Adipati Lu juga sangat sering berkonsultasi dengan Konfusius sehingga banyak pemikirannya yang terpakai. Dalam strategi perang, Konfusius juga cakap dalam memimpin. Ia sebagai pembuat konsep serangan ketika negara Lu ingin merobohkan tembok 3 negara yang dominan berkuasa pada saat itu. Ia lebih memikirkan strategi yang efektif dibandingkan dengan jumlah tentara dan kereta kuda yang banyak.
Tapi ada sebuah kelemahan dalam sistem politik yang diajarkan oleh Konfusius. Para penguasa memiliki kekuasaan penuh untuk memilih menteri-menteri mereka untuk mengendalikan pemerintahan. Dan trik dari penguasa dalam mengendalikan pemerintahan adalah merekrut murid-murid Konfusius yang cakap dan mengerti urusan pemerintahan, lalu mengendalikannya sehingga prinsip moral yang diajarkan Sang Guru menjadi kabur oleh kesenangan duniawi. 

Modernisasi
Sajian korban berupa manusia berlaku secara sangat umum pada awal masa-masa sejarah. Sajian korban dipandang sebagai suatu transaksi timbal balik agar mendapat berkah dari para leluhur dan arwah. Konfusius mengutuk hal semacam ini. Sehingga berkat Konfusius-lah kebiasaan tersebut akhirnya berkurang.
Max Weber pernah menulis: “ Dalam arti tidak mengandung metafisika sedikit pun serta hampir semua sisa-sisa dasar keagamaan, Konfusianisme bersifat akali sedemikian jauhnya sehingga berada pada batas yang paling ujung dari apa yang disebut etika keagamaan.
Kebiasaan masyarakat akan perayaan dan upacara pada masa itu juga diubah oleh ajaran ini. Walaupun dalam kitab-kitab klasik Konfusius dijelaskan secara rinci tentang tata cara perayaan dan upacara, ia mengajarkan bahwa yang paling penting adalah semangatnya, bukan bermegah-megah. Pada upacara berkabung misalnya, lebih baik mereka yang berkabung merasa sedih daripada terlampau teliti dalam melakukan setiap ketentuan secara detail pada upacara. Ia tidak sanksi menyimpang dari tatakrama yag sudah diterima oleh kebiasaan, manakala ia merasa bahwa yang demikian ini diharuskan oleh alasan-alasan yang masuk akal dan sopan-santun, tapi tidak pernah meremehkan kebiasaa-kebiasaan yang ada.
Salah seorang muridnya pernah bertanya tentang bagaimana seharusnya kita berbakti kepada arwah; Konfusius menjawab: “ Anda sendiri belum mampu berbakti kepada manusia, bagaimana mungkin anda berbakti kepada arwah?”.
Dalam suatu kasus, seorang pejabat negara Lu meninggal dunia dan memiliki pesan, agar orang-orang yang dicintainya (termasuk bawahan) juga ikut bersama menemani kematiannya. Hal ini sudah berlangsung sejak masa Dinasti Shang, dimana seorang kepala keluarga (apalagi seorang pejabat) meninggal, maka orang-orang terdekatnya pun harus ikut mati. Maka para budak (dan keturunannya) beserta dengan binatang peliharaannya (kuda dan binatang ternak lainnya) diseret untuk dibunuh secara massal. Hal itu ditentang dan akhirnya tidak dipakai lagi di negara Lu dengan alasan pemikiran logis dari Konfusius.

Inti
Pandangan Konfusius tentang pemerintahan dan manusia merupakan elemen terpenting dalam ajarannya. Dia percaya bahwa tujuan pemerintahan yang sebenarnya adalah mensejahterakan rakyat. Cara terbaik dalam memerintah adalah dengan nilai moral dan contoh kehidupan yang baik dari pemimpinnya, bukan dengan cara negatif dari undang-undag dan penghukuman. Pemerintah yang baik adalah mereka yag memiliki bekal akan kualitas kemanusiaan dan pengetahuan yang mendalam.
Ajaran konfusius berpusat pada sekitar sopan santun, toleransi, iman, kerajinan, kebaikan, moderat, keberanian, kesetiaan dan bakti. Elemen-elemen tersebut dapat diperoleh melalui pendidikan dan pengembangan diri. Yang terpenting adalah pembelajaran.
Tanpa pendidikan, cinta akan kebaikan akan menjadi kebodohan; cinta akan keberanian dapat menjadi kecerobohan; tanpa pembelajaran, cinta akan kejujuran dapat mengarah menjadi mudah ditipu, cinta akan kebenaran mengarah pada kecerobohan; cinta akan kebijaksanaan dapat menjurus kepada generlisasi yang dangkal, dan cinta akan kesetiaan dapat menyebabkan seseorang menyakiti orang lain.
Konfusius yakin bahwa kualitas moral yan sejati lebih penting dibandingkan dengan penampilan lua seseorang. Tetapi kebajikan batiniah harus dibuktikan dengan tingkah laku yag baik. Dia juga percaya bahwa kesopanan yang membentuk manusia. Kesopanan, baik didepan umum atau tidak, mempunyai pengaruhtidak langsung pada karakter seseorang yang akan mendorongnya menuju kebaikan dan mencegahnya melakukan kesalahan.
Penekanannya akan pentingnya pendidikan, pengajarannya tentang prinsip oral, penghormatannya kepada para cendekiawan dan profesi guru, keyakinannya pada peran keluarga, dan pentingnya pelayanan masyarakat, memberi pengaruh yang sangat besar selama berabad-abad.






Daftar Pustaka
-        Bauer, Susan Wise (2010). Sejarah Dunia Kuno-Dari Cerita-Cerita Tertua Sampai Jatuhnya Roma, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo).
-        Creel,H.G (1989). Alam Pikiran Cina sejak Confusius sampai Mao Zedong, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya (anggota IKAPI)).
-        Lu, Hou Wai (1959). A Short History of Chinese Philosophy, (Peking: Foreign Languanges Press)
-        Tang, Michael C. (2000). Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik-Refleksi bagi Para Pemimpin, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI).
-        http://wihara.com/forum/kong-hu-cu821-ajaran-konfusius.html